Senin, 03 September 2012

SAMPAH RUMAH TANGGA



Review pengelolaan sampah rumah tangga
“Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia”.
“Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah”.

SAMPAH DISEKITAR KITA
Pernyataan di atas ada benarnya dan sangat lekat dengan kita sebagai manusia, bagaimana tidak kita sering sekali mendengar permasalahan mengenai sampah apalagi dikota. Masalah sampah akan terus membayangi masyarakat sebagai produsen sampah, hanya mengharap penyelesaian dari pemerintah. Dimulai dari individu, rumah tangga hingga masyarakat mesti sadar untuk mengelola sampahnya.
Manusia sebagi produsen sampah rumah tangga memiliki peran besar dalam menghasilkan sampah setiap hari. Volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi barang atau material yang digunakan keseharian. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat sangat berpengaruh pada volume sampah. Sebagai contoh,  Kota Semarang, tercatat jumlah timbulan sampah 4757,10 m3/hari yang dihasilkan dari 1.547.366 jiwa.(ernawati, 2012).
SAMPAH, DAMPAK NEGATIF SERTA SOLUSINYA
Sampah yang pengelolaannya tidak baik akan menimbulkan dampak negatif secara kolektif. Dimana dampak dampaknya adalah,
1.      Gangguan kesehata, karena timbunan sampah dapat menjadi tempat perkembangbiakaan lalat yang menimbulkan penularan infeksi serta penyakit terkait tikus.
2.      Menurunnya kualitas lingkungan, yaitu tanah, air, dan udara yang tercemar oleh sampah.
3.      Menurunnya estetika lingkungan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan membuat lingkungan tidak indah dipandang.
4.      Terhambatnya pembangunan Negara. Menurunnya kualitas dan estetika lingkungan yang mengakibatkan wisatawan enggan berkunjung karena merasa tidak nyaman.
3 R SEBAGAI SOLUSI CERDAS
Solusi cerdas untu masalah sampah a dalah dengan melakukan 3 R. Reduce, mengurangi barang yang nantinya akan menjadi sampah. Reuse, kembali memanfaatkan benda yang masih bisa digunakan. Recycle, mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Dalam melaksanakan konsep 3 R dapat melalui kegiatan pengomposan. Pelaksanaannya tidak memerlukan teknik rumit, yang terpenting adalah kemauan, sedikit usaha dan meluangkan waktu.
JENIS JENIS SAMPAH RUMAH TANGGA
·         Kaleng, botol-botol plastic
·         Perabot rumah tangga yang berukuran besar
·         Sampah logam seperti perkakas rumah tangga. Alat elektronik rumah tangga dan potongan logam. Contoh: perapian, alat setrika dan panci
·         Sampah tidak terbakar seperti gelas, kaca, barang tembikar, dan barang plastic. Contoh: gelas minum, mangok, ember, plastic
·         Kaleng spray dan kaleng gas
·         Sampah terbakar, seperti sampah dapur, kertas, kulit, kain dan kayu. Contoh: sampah pengolahan makanan, sampah kertas
·         Limbah cair yang dapat dikategorikan menjadi 2 jenis
ü  Limbah dari WC, berupa kotoran yang biasa disebut black water
ü  Limbah dihasilkan dari proses mencuci pakaian, sayuran, membersihkan rumah, atau mandi disebut grey water
MEMILAH SAMPAH
Pengelolaan sampah bertujuan dan menginginkan tujuan yang baik, untuk itu setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari  sumbernya maka pengelolaannya akam lebih mudah dan semakin sedikit. Pada dasarnya sampah rumah tangga dapat dibedakan menjadi dua,
1.      Sampah organik
Sampah organik biasa disebut sampah basah sampah berasal dari makhluk hidup. Terkadang terlupakan bahwa sampah dapur seperti sayuran, daging, buah-buahan dan daun-daunan merupakan sampah organic yang terurai kembali secara alami, lebih lanjut sampah ini dapat menjadi kompos.
2.      Sampah anorganik
Lebih tepatnya sampah yang sulit terdegradasi karena membutuhkan waktu sangat lama (berates ribu tahun). Sampah ini biasa pula disebut sampah kering seperti plastik, pembungkus makanan, kertas, dan sampah yang tidak dapat terurai secara alami seperti gelas, gelas, kaleng.
KOMPOS
Apa itu Kompos?
Kompos adalah hasil penguraian tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organic yang dapat dipercepat secara artificial (buatan) oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik  (J.H/ Crawford 2003 dalam Naryanto, 20050
Bagaimana Sampah Menjadi Kompos?
Dalam pengomposan terjadi proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organic sebagai sumber energy. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol prose salami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat..
Faktor yang berpengaruh dalam pengomposan
Terciptanya lingkungan yang sesuai untuk mendukung kehidupan mikroba merupakan kunci keberhasilan dalam pengomposan. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor yaitu rasio C/N, kelembapan, aerasi, temperature, keasaman, ukuran partikel sampah, ukuran komposter, dan activator.
ü  Kadar air
Kelembapan pada sampah yang akan dikomposkan akan berpengaruh pada kecepatan proses pengomposan. Kondisi sampah yang terlampau lembap (banyak mengandung air) akan menyebabkan ruang pertikel sampah tersumbat sehingga udara tidak bisa masuk dan mikroba aerob akan mati. Pada kondisi tersebut mikroba anaerob berperan dalam pengomposan sehingga menyebabkan pembusukan dan menghasilkan bau. Sebaliknya, jika sampah terlalu kering, mikroba akan terdehidrasi dan pengomposan akan berjalan sangat lambat . kelembapan optimal 50-60%, dapat dirasakan denggan rabaan yaitu terasa basah seperti busa spon yang habis diperas tapi airnya tak menetes.
ü  Unsur C
Unsur Carbon dipergunakan oleh mikroba sebagai sumber energi dan unsur N untuk perkembangbiakkan mikroba. Perbandingan C (Karbon) dan N (Nitrogen)  di dalam pengomposan harus memenuhi antara 20-40. Jika rasionya tinggi maka pengomposan berjalan lambat. Jika rasionya terlalu kecil, akan timbul gas amoniak yang melepaskan gas mengandung N. rasio C dan N yang biasa digunakan adanag dengan perbandingan volume 2:1 atau 3:1. Sumber C bersumberl dari kebun seperti daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam padi, kertas, kulit jagung dan jerami. Sumber N bersumber dari dapur seperti sampah dapur, sayuran, buah-buahan, daun segar, potongan rumput, dan kotoran ternak.
ü  Aerasi
Aerasi dalam proses pengomposan berkaitan dengan ketersediaan oksigen yang dibutuhkan mikroba untuk bekerja. Kekurangan oksigen akan menyebabkan mikroba anaerob mengambil alih proses penguraian sampah dan membutuhkan waktu yang lama dan menghasilkan gas metan yang beracun dan gas H2S yang berbau busuk. Pengadukan saat proses pengomposan berjalan dilakukan untuk menghasilkan oksigen. Pengaadukan dilakukan sampai lapisan terbawah. Pemberian lubang pada samping atau bawah wadah pengomposan (komposter) berguna untuk mempertahankan kadar oksigen dalam komposter. Proses pengomposan diperlukan suhu pada level tertentu. Suhu ini berasal dari energi yang dihasilkan.
ü  Derajat keasamaan
pH berkaitan dengan terbentuknya asam organik sederhana di awal proses pengomposan yang bisa mengakibakan kegagalan tumpukan menjadi panas. Kondisi optimum derajat keasaman adalah 5-8.
ü  Ukuran partikel
Pada pengomposan ukuran partikel berpengaruh pada aerasi dan efektivitas luasan partikel yang diuraikan mikroba. Semakin besar potongan maka semakin memperkecil ruang operasi mikroba dan pengomposan akan berjalan lambat. Namun, jika potongan partikel terlalu kecil, proses pengomposan akan lebih cepat serta dikhawatirkan partikel akan memadat dan aliran udara terhambat sehingga terjadi penguraian sampah anaerob
ü  Activator atau starter
Starter yang baik adalah yang alami, berasal dari tanah subur atau kotoan ternak.
Manfaat Kompos
Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, karena dengan kompos zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah pun akan menjadi lebih gembur. Menggunakan kompos berarti mengurangi ketergantungan pada pemakaian pupuk mineral (anorganik) seperti urea, karena urea dapat menambah tingkat polusi tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Ernawati, Dyah. 2012. Abstrak: Analisis Komposisi, Jumlah dan Pengembangan Strategi Pengelolaan Sampah  di Wilayah Pemerintah Kota Semarang Berbasis Analisis SWOT. Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta. http://pasca.uns.ac.id/?p=2754
Nuryanto, Niniek. 2005. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Pustaka Rumah. Jakarta

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN REKLAMASI PANTAI MARINA KOTA SEMARANG


I.         PENDAHULUAN
Kota Semarang merupakan kota yang memiliki wilayah pesisir dengan panjang pantai ± 13,6 km. Desakan kebutuhan ekonomi di Kota Semarang menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya. Sekitar 80 persen wilayah pantai Kota Semarang saat ini dikuasai oleh swasta, termasuk pengusaha. Mereka dengan leluasa mengubah pantai, termasuk mendirikan bangunan, baik di wilayah pantai maupun di laut dengan cara mereklamasi pantai. Di Kota Semarang, pengurugan tambak, reklamasi (dalam bentuk penambahan areal daratan) dilakukan pada sekitar tahun 1985 untuk memfasilitasi perumahan mewah, PRPP (Pekan Raya Promosi dan Pembangunan), Taman Mini Jawa Tengah yang disebut Maerokoco, Taman Marina, dan Studio 21.

II.      PEMBAHASAN
1.      PENGERTIAN REKLAMASI PANTAI
            Reklamasi pantai memiliki berbagai macam pengertian. Dari segi bahasa kata reklamasi berasal dari bahasa Inggris yaitu reclamation yang berarti pekerjaan memperoleh tanah. Jadi pengertian reklamasi pantai adalah pekerjaan untuk mendapatkan bidang lahan dengan luasan tertentu di daerah pesisir dan laut. Sedangkan secara teori, reklamasi berarti suatu upaya untuk membentuk dataran baru dalam rangka memenuhi kebutuhan lahan dengan cara menimbun kawasan pantai, reklamasi juga merupakan suatu langkah pemekaran kota (Ni’am, 1999:111 dalam Rossanty 2008). Reklamasi merupakan upaya meningkatkan sumber daya alam lahan dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan cara pengeringan lahan atau pengurukan tanah dengan menambah tanah sejumlah volume tertentu ke dalam laut dan daerah pesisir pantai. Hal ini tentu memberikan beberapa konsekuensi yang saling terkait satu dengan lainnya. Praktiknya, reklamasi pantai yang banyak dilaksanakan di Indonesia tidak memenuhi kriteria definisi tersebut (Dwikorita Karnawati,2007 dalam Rossanty 2008).

2.      GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI  PANTAI MARINA SERTA MASALAH PERUBAHAN LINGKUNGAN
            Secara geologi pantai marina merupakan pantai yang tersusun oleh sedimentasi laut dan sungai serta terdapat endapan aluvium delta yang berumur kuarter. Material aluvium delta yang berupa batulempung merupakan litologi yang belum terkompaksi secara utuh apalagi ditambah adanya intrusi air laut yang diakibatkan penggunaan air tanah secara berlebihan sehingga akuifer dangkal yang ada menjadi rusak dan terintrusi oleh air laut. Hal ini karena dipesisir pantai marina digunakan sebagai kawasan pariwisata dan perkantoran serta kawasan huni mewah yang sangat banyak membutuhkan air bersih sehingga banyak yang melakukan pengeburan sumur artesis yang mencari lapisan akuifer dalam sehingga terjadi proses kerusakan akuifer dan berdampak pada proses land subsidence didaerah pesisir utara dan secara morfogenesa kawasan pantai marina merupakan daerah pantai genetic yang endapannya tersusun oleh endapan material laut dan sedimentasi sungai. Namun penyalahgunaan fungsi sungai sebagai bahan pembuangan limbah menjadikan daerah kawasan pantai marina menjadi daerah yang kotor. Daerah pantai marina merupakan daerah pantai yang jelek akibat endapan litologi berupa napal dan lempung dan gejala amblesan dan pemakaian air tanah yang dieksploitasi yang berlebihan pada rusaknya stratigrafi daerah utara semarang yang berumur kuarter, serta adanya proses pembebanan pondasi bangunan yang tidak memperhatikan kestabilan dan daya dukung tanah ketika melakukan pembangunan dan pengubahan kawasan hutan bakau menjadi daerah terbuka membuat tingkat lingkungan pantai marina rusak berlebihan secara kuantitatif dan fisik sehingga perlu dilakukan pemulihan dan konservasi lingkungan. Hal lain perlu ditambahkan bahwa reklamasi pantai semarang seharusnya juga memperhatikan daerah aliran sungai dan tingkat kestabilan tanah serta kajian geologinya. Hal ini diperlukan sebagai bahan referensi didalam pengelolaan wilayah tingkat lanjut.
3.      ANALISIS LINGKUNGAN REKLAMASI PANTAI MARINA
a.       Majunya garis pantai
Pada kondisi sekarang adanya aktifitas reklamasi yang dilakukan oleh pengembang menyebabkan majunya garis pantai, seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut
Gambar 3.1 gambar barier berfungsi memecah ombak sebagai upaya mencegah abrasi, batu batu sebelah kiri merupakan reklamasi pantai, dapat mengakibatkan majunya garis pantai.

Dampak lain yang mungkin timbul akibat kegiatan tersebut adalah makin panjangnya masalah rob. Hal ini disebabkan semakin panjangnya jalur yang harus ditempuh oleh air untuk sampai ke laut. Daerah yang tadinya dijadikan sebagai daerah resapan dan tempat berhentinya air sementara seperti di pinggir pantai terkena reklamasi, sehingga air tidak bisa meresap dan tidak dapat langsung menuju ke laut. Hal tersebut merupakan pemicu semakin rumitnya masalah rob.
b.      Penurunan muka tanah
Dengan adanya rob maka terjadilah penurunan muka tanah atau landsibsidance. Laju penurunan muka tanah di kawasan Semarang Utara semakin cepat, meskipun kisaranya dalam cm. namun demikian masalah ini dapat mengancam semua orang yang tinggal atau memiliki bangunan di kawasan ini. Bangunan yang terdapat pada daerah ini harus dilakukan penambahan ketinggian agar tidak ambles.
c.       Rusaknya ekosistem pada kawasan pantai
Kerusakan sebuah ekosistem juga dapat terjadi pada kawasan ini. Dimana sebuah ekosistem pantai yang sudah lama terbentuk dan tertata sebagaimana mestinya dapat hancur atau hilang akibat adanya reklamasi. Biota pantai yang biasa hidup pada lingkungan dengan kondisi sedemikian rupa tidak dapat tumbuh seperti jalur hidupnya. Perpindahan tempat dari habitatnya ke lingkungan yang baru memerlukan penyesuaian diri atau adaptasi makhluk nidup tehadap lingkungan. Jika pada lingkungan yang baru makhluk hidup tersebut tidak dapat menyesuaikan diri atau kondisinya terlalu ekstrim sebagai tempat hidup kemungkinan makhluk hidup tersebut akan mati.
d.      Dampak pada ekonomi nelayan
Masalah yang berhubungan dengan biota laut atau pantai di atas juga dapat berimbas pada ekonomi nelayan. Matinya biota laut dapat membuat ikan yang dulunya mempunyai sumber pangan menjadi lebih sedikit sehiungga ikan tersebut akan melakukan migrasi ke daerah lain atau kea rah laut yang lebih dalam. Dari hal ini tampak bahwa para nelayan akan semakin sulit dalam mencari ikan. Mereka harus lebih ke tengah laut untuk mendapatkan ikan. Semakin susah mencari ikan maka kondisi ekonomi nelayan pun akan semakin susah. Seperti pada gambar 3.2. Jaring nelayan dipasang semakin ketengah

gambar 3.2.
Jaring penangkap ikan nelayan makin menuju ke tengah.
e.      Bidang sosial dan budaya
Di bidang sosial dan budaya juga akan mengalami perubahan. Daerah yang tadinya berupa pantai dengan sedikit bangunan akan terubah menjadi kawasan perkantoran dan perumahan. Daerah yang terbuka atau ruang publik akan tertutup oleh banguna tersebut. Disisi lain masyarakat yang tinggal disekitar pantai akan tersingkir dengan adanya bangunan-bangunan mewah tersebut yang dibuat di atas tanah reklamasi. Seperti pada gambar 3.3. berikut
   
Gambar 3.3 bangunan rumah mewah pada perumahan dikawasan reklamasi pantai dan gedung olah raga di sekitar kawasan



III.   PENUTUP
SARAN
·         Penegasan Regulasi oleh Pemerintah Kota Semarang
Langkah yang cukup efektif adalah dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan oleh pemerintah kota Semarang. Isi dari undang-undang tersbut berupa tata aturan yang lebih detail dan lebih sempit tentang reklamasi, sehingga ketika ada pengembang atau kotraktor yang akan melakukan reklamasi tidak akan melakukan dengan sembarangan. Selain itu juga agar lokasi yang akan direklamasi tidak menyalahi aturan serta hanya area yang diperbolehkan saja untuk dilakukan reklamasi.
·         Pengkajian ulang mengenai izin Reklamasi pihak swasta (PT. IPU)
Penegasan regulasi bahwa lokasi reklamasi tersebut berada di kawasan lindung yang berdasarkan Keppres No.32 tahun 1990 merupakan milik publik dan tidak boleh dikuasai oleh perorangan atau swasta.
·         Penanaman mangrove
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kehidupan biota laut pada kawasan pantai yaitu dengan melakukan penanaman mangroove disekitar pantai. Dengan adanya hutan mangroove diharapkan biota laut juga dapat hidup dan tumbuh dengan baik sehingga ikan dapat berkembang biak. Kondisi yang demikian ini dapat menguntungkan nelayan sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh mencari ikan ke tengah laut dan juga dapat mengurangi abrasi di pantai marina.
·         Dalam melakukan kegiatan reklamasi kawasan reklamasi pantai dan kawasan sekitarnya, pemanfaatan lahan dan penggunaan aspal dan beton pada lahan harus diminimalkan untuk membantu penyerapan air dan mengurangi runoff.


IV.   DAFTAR PUSTAKA
Syawal, Rizqi. 2009. Reklamasi Pantai Marina. Wordpress.      http://syawal88.wordpress.com/2009/06/19/reklamasi-pantai-marina/
Rossanty, Emy. 2008. Tugas Akhir: Dampak Reklamasi Pantai Marina Kota Semarang.         Perencanaan Wilayah dan Kota Undip. http://eprints.undip.ac.id/5493/1/emyTA.pdf















Selasa, 05 Juni 2012

catatan kuliah

CATATAN KULIAH ILMU LINGKUNGAN DAN SUMBER DAYA ALAM
EKOLOGI
Pada catatan mata kuliah ilmu lingkungan kali ini adalah mengenai ekologi. sejarahnya, ekologi merupakan ilmu dasar hubungan antar organisme dan lingkungan yang  terkait kehidupan sehari-hari. Ekologi dalam perkembangannya semakin diperhatikan karena kini banyak bermunculan masalah lingkungan sejalan dengan perkembangan serta kemajuan pembangunan yang dapat mempercepat prose perubahan lingkungan. Permasalahan lingkungan yang dihadapi dalam hal penghematan sumber daya dan energi, masalah pencemaran udara, air, dan tanah. Ekologi dapat dibagi menjadi,
1.    Autekologi: membahas pengkajian individu organisme atau individu spesies yang penekanannya pada sejarah-sejarah hidup dakn kelakuan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Contoh: studi mengenai hubungan suatu jenis pohon terhadap lingkungan
2.    Sinekologi: membahas pengkajian golongan atau kumpulan organisme-organisme yang berasosiasi bersama sebagai satuan. Contoh: studi mengenai hutan dimana jenis pohon itu tumbuh.
ekologi melingkupi berbagai macam hal termasuk di dalamnya ada mengenai ekosistem, produsen sampai dekomposer, faktor pembatas, rantai makanan serta daur.
Pembahasan awal mengenai ekosistem

FAKTOR TERBATAS
1.    HUKUM MINIMUM LIEBIG, organisme hidup dapat bekerja jika bahan yg dibutuhkan tersedia dalam jml mendekati minimum
2.    HUKUM TOLERANSI SHELFORD, bahan yang dibutuhkan organisme berada dalam kisaran tertentu. Faktor-faktor yg mempengaruhi perkembangan organisme, dibutuhkan dalam batas minimum, maksimum dan optimum sesuai batas batas tolernsi oleh organisme