Review pengelolaan sampah rumah
tangga
“Sampah
merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia”.
“Setiap
aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah”.
SAMPAH
DISEKITAR KITA
Pernyataan di atas ada
benarnya dan sangat lekat dengan kita sebagai manusia, bagaimana tidak kita
sering sekali mendengar permasalahan mengenai sampah apalagi dikota. Masalah
sampah akan terus membayangi masyarakat sebagai produsen sampah, hanya
mengharap penyelesaian dari pemerintah. Dimulai dari individu, rumah tangga
hingga masyarakat mesti sadar untuk mengelola sampahnya.
Manusia sebagi produsen
sampah rumah tangga memiliki peran besar dalam menghasilkan sampah setiap hari.
Volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi barang atau material yang
digunakan keseharian. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat
sangat berpengaruh pada volume sampah. Sebagai contoh, Kota Semarang, tercatat jumlah timbulan
sampah 4757,10 m3/hari yang dihasilkan dari 1.547.366 jiwa.(ernawati, 2012).
SAMPAH, DAMPAK NEGATIF
SERTA SOLUSINYA
Sampah yang
pengelolaannya tidak baik akan menimbulkan dampak negatif secara kolektif. Dimana
dampak dampaknya adalah,
1.
Gangguan kesehata, karena timbunan
sampah dapat menjadi tempat perkembangbiakaan lalat yang menimbulkan penularan
infeksi serta penyakit terkait tikus.
2.
Menurunnya kualitas lingkungan, yaitu
tanah, air, dan udara yang tercemar oleh sampah.
3.
Menurunnya estetika lingkungan sampah
yang bau, kotor dan berserakan akan membuat lingkungan tidak indah dipandang.
4.
Terhambatnya pembangunan Negara. Menurunnya
kualitas dan estetika lingkungan yang mengakibatkan wisatawan enggan berkunjung
karena merasa tidak nyaman.
3 R SEBAGAI SOLUSI
CERDAS
Solusi cerdas untu
masalah sampah a dalah dengan melakukan 3 R. Reduce, mengurangi barang yang nantinya akan menjadi sampah. Reuse, kembali memanfaatkan benda yang
masih bisa digunakan. Recycle,
mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Dalam melaksanakan konsep
3 R dapat melalui kegiatan pengomposan. Pelaksanaannya tidak memerlukan teknik
rumit, yang terpenting adalah kemauan, sedikit usaha dan meluangkan waktu.
JENIS JENIS SAMPAH
RUMAH TANGGA
·
Kaleng, botol-botol plastic
·
Perabot rumah tangga yang berukuran
besar
·
Sampah logam seperti perkakas rumah
tangga. Alat elektronik rumah tangga dan potongan logam. Contoh: perapian, alat
setrika dan panci
·
Sampah tidak terbakar seperti gelas,
kaca, barang tembikar, dan barang plastic. Contoh: gelas minum, mangok, ember, plastic
·
Kaleng spray dan kaleng gas
·
Sampah terbakar, seperti sampah dapur,
kertas, kulit, kain dan kayu. Contoh: sampah pengolahan makanan, sampah kertas
·
Limbah cair yang dapat dikategorikan
menjadi 2 jenis
ü Limbah
dari WC, berupa kotoran yang biasa disebut black
water
ü Limbah
dihasilkan dari proses mencuci pakaian, sayuran, membersihkan rumah, atau mandi
disebut grey water
MEMILAH SAMPAH
Pengelolaan sampah bertujuan
dan menginginkan tujuan yang baik, untuk itu setiap kegiatan pengelolaan sampah
harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah
semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya maka pengelolaannya akam lebih
mudah dan semakin sedikit. Pada dasarnya sampah rumah tangga dapat dibedakan
menjadi dua,
1. Sampah
organik
Sampah organik biasa disebut sampah
basah sampah berasal dari makhluk hidup. Terkadang terlupakan bahwa sampah dapur
seperti sayuran, daging, buah-buahan dan daun-daunan merupakan sampah organic yang
terurai kembali secara alami, lebih lanjut sampah ini dapat menjadi kompos.
2. Sampah
anorganik
Lebih tepatnya sampah yang sulit terdegradasi karena
membutuhkan waktu sangat lama (berates ribu tahun). Sampah ini biasa pula
disebut sampah kering seperti plastik, pembungkus makanan, kertas, dan sampah
yang tidak dapat terurai secara alami seperti gelas, gelas, kaleng.
KOMPOS
Apa
itu Kompos?
Kompos adalah hasil
penguraian tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organic yang dapat dipercepat
secara artificial (buatan) oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (J.H/ Crawford 2003 dalam Naryanto, 20050
Bagaimana
Sampah Menjadi Kompos?
Dalam pengomposan
terjadi proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis,
khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organic sebagai sumber energy.
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol prose salami tersebut agar kompos
dapat terbentuk lebih cepat..
Faktor
yang berpengaruh dalam pengomposan
Terciptanya lingkungan
yang sesuai untuk mendukung kehidupan mikroba merupakan kunci keberhasilan dalam
pengomposan. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor yaitu rasio C/N, kelembapan,
aerasi, temperature, keasaman, ukuran partikel sampah, ukuran komposter, dan activator.
ü Kadar
air
Kelembapan pada sampah yang akan
dikomposkan akan berpengaruh pada kecepatan proses pengomposan. Kondisi sampah
yang terlampau lembap (banyak mengandung air) akan menyebabkan ruang pertikel
sampah tersumbat sehingga udara tidak bisa masuk dan mikroba aerob akan mati. Pada
kondisi tersebut mikroba anaerob berperan dalam pengomposan sehingga
menyebabkan pembusukan dan menghasilkan bau. Sebaliknya, jika sampah terlalu
kering, mikroba akan terdehidrasi dan pengomposan akan berjalan sangat lambat .
kelembapan optimal 50-60%, dapat dirasakan denggan rabaan yaitu terasa basah
seperti busa spon yang habis diperas tapi airnya tak menetes.
ü Unsur
C
Unsur Carbon dipergunakan oleh mikroba sebagai sumber energi dan unsur N
untuk perkembangbiakkan mikroba. Perbandingan C (Karbon) dan N (Nitrogen) di dalam pengomposan harus memenuhi antara
20-40. Jika rasionya tinggi maka pengomposan berjalan lambat. Jika rasionya terlalu
kecil, akan timbul gas amoniak yang melepaskan gas mengandung N. rasio C dan N
yang biasa digunakan adanag dengan perbandingan volume 2:1 atau 3:1. Sumber C
bersumberl dari kebun seperti daun kering, rumput kering, serbuk gergaji,
serutan kayu, sekam padi, kertas, kulit jagung dan jerami. Sumber N bersumber
dari dapur seperti sampah dapur, sayuran, buah-buahan, daun segar, potongan
rumput, dan kotoran ternak.
ü Aerasi
Aerasi dalam proses pengomposan
berkaitan dengan ketersediaan oksigen yang dibutuhkan mikroba untuk bekerja. Kekurangan
oksigen akan menyebabkan mikroba anaerob mengambil alih proses penguraian
sampah dan membutuhkan waktu yang lama dan menghasilkan gas metan yang beracun
dan gas H2S yang berbau busuk. Pengadukan saat proses pengomposan berjalan
dilakukan untuk menghasilkan oksigen. Pengaadukan dilakukan sampai lapisan
terbawah. Pemberian lubang pada samping atau bawah wadah pengomposan
(komposter) berguna untuk mempertahankan kadar oksigen dalam komposter. Proses pengomposan
diperlukan suhu pada level tertentu. Suhu ini berasal dari energi yang
dihasilkan.
ü Derajat
keasamaan
pH berkaitan dengan terbentuknya asam organik
sederhana di awal proses pengomposan yang bisa mengakibakan kegagalan tumpukan
menjadi panas. Kondisi optimum derajat keasaman adalah 5-8.
ü Ukuran
partikel
Pada pengomposan ukuran partikel berpengaruh
pada aerasi dan efektivitas luasan partikel yang diuraikan mikroba. Semakin besar
potongan maka semakin memperkecil ruang operasi mikroba dan pengomposan akan
berjalan lambat. Namun, jika potongan partikel terlalu kecil, proses
pengomposan akan lebih cepat serta dikhawatirkan partikel akan memadat dan
aliran udara terhambat sehingga terjadi penguraian sampah anaerob
ü Activator
atau starter
Starter yang baik adalah yang alami, berasal dari
tanah subur atau kotoan ternak.
Manfaat
Kompos
Kompos berguna untuk
memperbaiki struktur tanah, karena dengan kompos zat makanan yang diperlukan
tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan
zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah pun akan menjadi lebih gembur. Menggunakan
kompos berarti mengurangi ketergantungan pada pemakaian pupuk mineral
(anorganik) seperti urea, karena urea dapat menambah tingkat polusi tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Ernawati,
Dyah. 2012. Abstrak: Analisis Komposisi, Jumlah dan Pengembangan Strategi
Pengelolaan Sampah di Wilayah Pemerintah
Kota Semarang Berbasis Analisis SWOT. Program Studi Ilmu Lingkungan, Program
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta. http://pasca.uns.ac.id/?p=2754
Nuryanto, Niniek. 2005.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Pustaka Rumah. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar